keyword :
saparan atau safar adalah bulan ke dua dalam perhitungan kalender islam
jawa bulan ini di percaya masyarakat adalah bulan musim kawin hewan
khewan sing pada kawin seperti anjing asu sehingga di bulan ini
sebaiknya tidak dilakukan acara pernikahan atau masyarakat cirebon
mengenal bulan larangan untuk melakukan pernikahan di samping itu bulan
sapar juga dikenal dengan bulan yang sering terjadi malapetaka atau
wulan sing akeh sial blai khususnya hari rabu terakhir di bulan ini atau
orang cirebon mengenal dengan istilah rebo wekasan asal usul keyakinan
ini juga belum jelas tapi dari beberapa sumber yang diyakini masyarakat
bahwa di hari rabu terakhir di bulan sapar ini biasanya banyak terjadi
bala sehingga dipercaya untuk mencegah bala ini kita dianjurkan
melakukan sholat 4 rokaat dengan bacaan surat al-kautsar sebanyak 17
kali di rakaat pertama dibaca surat al-ikhlas sebanyak 5 kali di rokaat
ke dua dibaca surat al-falaq di rakaat ketiga surat an-nas di baca satu
kali juga di raka’at yang keempat kemudian di akhiri dengan membaca do a
asyura masyarakat cirebon percaya di bulan ini untuk menghindari
melakukan perjalanan jauh perkerjaan yang cukup berbahaya dianjurkan di
bulan ini banyak membantu orang lain dan memperbanyak sedekah khususnya
untuk anak-anak yatim para janda tua dan kaum jompo di lain itu pula
kita lebih meningkatkan dan mempererat tali silaturahmi diantara sesama
berkaitan dengan ini maka masyarakat cirebon selama bulan ini melakukan 3
macam kegiatan yang dikenal dengan ngapem ngirab dan rebo wekasan
ngapem berasal dari kata apem yaitu berupa kue yang terbuat dari tepung
beras yang di fermentasi apem dimakan disertai dengan pemanis kinca yang
terbuat dari gula jawa dan santan umumnya masyarakat masih melakukan
ini dengan membagi-bagikan ke tetangga yang intinya adalah bersyukur
selametan di bulan sapar yang kita terhindar dari malapetaka pesan yang
diambil dari apem dan kinca ini juga melambangkan kita untuk lebih
memperhatikan fakir miskin tetangga dan kerabat dekat untuk lebih
mempererat tali silaturahmi karena di bulan ini penuh dengan malapetaka
apem juga melambangkan diri kita pada saat kita memakannya harus di
celupkan di kinca yang melambangkan darah dan juga mengingatkan kita
adanya kemungkinan diri kita akan terkena musibah ada juga cerita dari
beberapa sumber bahwa tradisi ngapem ini berasal dari keraton yang
sering membagi-bagikan apem di bulan ini ada juga diartikan pada masa
penjajahan belanda di cirebon bahwa apem melambangkan belanda yang harus
di musnahkan dari cirebon dengan memasukan apem ke dalam kinca bulan
safar yang diyakini bulan yang penuh malapetaka yang kemungkinannya bisa
terjadi di antara kita hal ini konon di yakini sebagai upaya sunan
kalijaga untuk mencegah kemungkinan datangnya rebo wekasan beliau mandi
di sungai drajat pada saat berguru pada sunan gunung djati untuk
membersihkan diri dari bala di hari rebo wekasan ini akhirnya di ikuti
oleh masyarakat pada saat itu dan dijadikan adat oleh masyarakat cirebon
hingga kini masyarakat cirebon di hari rebo wekasan mengunjungi
petilasan sunan kalijaga dengan menggunakan perahu mereka menuju
kalijaga dan melakukan mandi di tempat yang di yakini dulu sunan
kalijaga mandi adat ini disebut dengan ngirab yang artinya bergerak atau
menggerakan sesuatu untuk membuang yang kotor beberapa masyarakat masih
meyakini adat ini dengan dengan serius secara sepiritual akan tetapi
kebanyakan orang hanya untuk rekreasi dan bersenang-senang saja untuk
melupakan bulan yang penuh bala ini semua kegiatan di bulan sapar ini
belumlah lengkap bila tidak di akhiri dengan rebo wekasan yang merupakan
hari yang sangat penting selepas isya hingga shubuh merupakan
pergantian hari yg biasanya di pagi hari banyak anak-anak yang berkopiah
dengan sarung yang di kalungkan ke badannya akan keliling dari rumah ke
rumah untuk mensenandungkan nyanyian wur tawur nyi tawur selamat dawa
umur.. yang artinya bu bagikan lah sesuatu ke kami semoga selalu sehat
aman dan panjang umur.. artinya bebas selamat lah anda setelah hari rebo
terakhir ini bisanya si empunya rumah akan menanyakan sing endi cung
terus akan di page 2 of 2 jawab oleh mereka dari pesantren atau dari
daerah mana mereka tinggal...mereka biasanya berkelompok minimal dua
atau tiga orang dan kadang berlima ada juga sumber sejarah yang
mengatakan bahwa anak-anak tawurji ini berasal dari pengikut syeikh
lemahabang syeh siti djenar alias syeikh datuk abdul djalil alias syeikh
jabaranta berdasarkan sejarah dari para orang terdahulu bahwa syek siti
djenar ini dulunya bagian dari para wali hanya beliau mengajarkan
sesuatu yang membuat orang lupa mengesampingkan syariat sehingga beliau
konon di adili oleh dewan walisongo di masjid agung cirebon dan di
eksekusi oleh sunan kudus dengan menggunakan keris kantanaga milik sunan
gunung djati stelah beliau wafat jasadnya di makamkan di kemlaten
setelah wafatnya syeikh lemah abang para pengikutnya abangan sangatlah
sedih maka usul sunan kalijaga atas persetujuan sunan gunung djati
dengan rebo wekasan ini di anjurkan untuk berdoa memberi selamat dari
setiap rumah ke rumah agar selalu dilindungi oleh yang maha kuasa dan
mereka di santuni dengan memberikan uang jajan karna tidak ada lagi yang
mengasuh mereka sumber carubannagari.blogspot.com 1 of 2 displaying
saparan atau safar adalah bulan ke dua dalam perhitungan kalender islam
jawa.docx
No comments:
Post a Comment