keyword :
Page 1 of 21
1 PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BAWANG MERAH TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI RALSTONIA (Pseudomonas) PADA TANAMAN KENCUR (Kaempferia galanga L.) PROPOSAL PENELITIAN Disusun oleh : MUSTHOFA AFIFI NIM. 2012 41 002 PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MURIA KUDUS 2014
Page 2 of 21
2 PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BAWANG MERAH TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI RALSTONIA (Pseudomonas) PADA TANAMAN KENCUR (Kaempferia galanga L.) PROPOSAL PENELITIAN Diajukan Kepada Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus Untuk Memenuhi Sebagian Dari Sayarat-syarat Guna Menempuh Skripsi Disusun oleh : MUSTHOFA AFIFI NIM. 2012 41 002 PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MURIA KUDUS
Page 3 of 21
3 2014
Page 4 of 21
4 HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL PENELITIAN PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BAWANG MERAH TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI RALSTONIA (Pseudomonas) PADA TANAMAN KENCUR (Kaempferia galanga L.) Disusun Oleh : MUSTHOFA AFIFI NIM. 2012 41 002 Proposal penelitian tersebut telah diterima sebagai syarat yang harus dipenuhi untuk menempuh skripsi. Kudus, 25 Juni 2014 Mengetahui : Dosen Pembimbing Utama Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus Komisi Sarjana Ir. Supari, MSi Ir. Zed Nahdi, M.Sc Dosen Pembimbing Pendamping Ir.Suharjianto,MP.
Page 5 of 21
5 KATA PENGANTAR Puji syukur Penulis haturka kepada Allah SWT yang mana atas Berkat, Rahmat, Hidayah, Serta Inayah-Nya sehingga penulis bisa menyusun sebuah Proposal Penelitian yang berjudul “Pengaruh Pemberian Ekstrak Bawang Merah Terhadap penyakit Layu Bakteri Ralstonia (Pseudomonas) solanacearum Pada Tanaman Kencur”. Proposal ini dibuat dalam rangka untuk memenuhi sebagian dari syarat- syarat guna menempuh skripsi Tahun 2014 Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus. Atas tersusunnya proposal penelitian ini tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat : 1. Ir. Hadi Supriyo MSi selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus 2. Ir.Supari,Msi ; selaku Dosen Pembimbing Utama. 3. Ir.Suharjianto,MP ; selaku Dosen Pembimbing Pendamping. 4. Kedua Orangtua saya dan rekan-rekan Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus angkatan 2012. 5. Semua pihak yang telah membantu terwujudnya proposal ini. Penulis yakin bahwa proposal ini tidak luput dari adanya kekurangan dan kesalahan, untuk itu penulis senantiasa terbuka dalam menerima kritik dan saran demi kesempurnannya. Akhir kata hanya ucapan terimakasih yang senantiasa bisapenulis haturkan. Kudus, 25 Juni 2014 Hormat Saya Penulis
Page 6 of 21
6 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i HALAMAN PENGESAHAN iii KATA PENGANTAR iv DAFTAR ISI v I. Pendahuluan 1 1.1. Latar Belakang 1 1.2. Rumusan Masalah 2 1.3. Tujuan Penelitian 2 1.4. Hipotesis 2 II. Tinjauan Pustaka 3 2.1. Kencur 3 2.2. Ralstonia Solanacearum 4 2.3. Bawang Merah 5 III. Metodologi Penelitian 7 3.1. Waktu Dan Tempat 7 3.2. Bahan Dan Alat 7 3.3. Metode Penelitian 7
Page 7 of 21
7 3.4. Pelaksanaan Penelitian 8 3.5. Parameter Yang Diamati 9 DAFTAR PUSTAKA 10
Page 8 of 21
8 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kencur (Kaempferia galanga L.) adalah salah satu jenis empon- empon/tanaman obat yang tergolong dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae). Rimpang atau rizoma tanaman ini mengandung minyak atsiri dan alkaloid yang dimanfaatkan sebagai stimulan. Nama lainnya adalah cekur (Malaysia) dan pro hom (Thailand). Dalam pustaka internasional (bahasa Inggris) kerap terjadi kekacauan dengan menyebut kencur sebagai lesser galangal (Alpinia officinarum) maupun zedoary (temu putih), yang sebetulnya spesies yang berbeda dan bukan merupakan rempah pengganti. Terdapat pula kerabat dekat kencur yang biasa ditanam di pekarangan sebagai tanaman obat, temu rapet (K. rotunda Jacq.), namun mudah dibedakan dari daunnya. Kendala yang dihadapi petani saat ini adalah tentang penyakit yang menyerang tanaman kencur, salah satunya adalah Penyakit Layu Bakteri Ralstonia (Pseudomonas) solanacearum. Gejala serangan penyakit ini terlihat pada tanaman kencur umur 3 bulan, daun menguning dan menggulung yang dimulai dari daun yang lebih tua kemudian diikuti daun yang lebih muda, lama-lama ke seluruh helai daun kuning dan mati. Gejala menguning pada daun biasanya dimulai dari pinggir daun, kemudian menyebar keseluruh helai daun. Pada tahap lanjut, daun mudah dicabut dari bagian rimpang. Jika potongan tangkai daun atau rimpang dipijit dengan tangan atau direndam dalam air jernih di dalam gelas, akan mengeluarkan lender berwarna putih seperti air susu. Rimpang yang sakit dan busuk berbau sangat tajam. Salah satu cara pengendaliannya adalah dengan cara pemberian ekstrak bawang merah. Hal ini dapat menekan serangan penyakit sampai 33%.
Page 9 of 21
9
Page 10 of 21
10 1.2 Rumusan Masalah 1. Apakah pemberian ekstrak bawang merah dapat mencegah penyakit layu pada tanaman kencur? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis yang efektif untuk mencegah penyakit layu pada tanaman kencur. 1.4 Hipotesis 2.1. Diduga pemberian ekstrak bawang merah berpengaruh terhadap penyakit layu pada tanaman kencur.
Page 11 of 21
11
Page 12 of 21
12 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Kencur Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh di berbagai daerah di Indonesia sebagai tanaman yang dipelihara.Tanaman ini banyak digunakan sebagai ramuan obat tradisional dan sebagai bumbu dalam masakan sehingga para petani banyak yang membudidayakan tanaman kencur sebagai hasil pertanian yang diperdagangkan.Bagian dari kencur yang diperdagangkan adalah buah akar yang ada di dalam tanah yang disebut rimpang kencur atau rizoma (Barus, 2009). Klasifikasi Kaempferia galangaL. di dalam dunia botani adalah sebagai berikut : Kerajaan : Plantae Divisi : Spermathophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Bangsa : Zingiberales Suku : Zingiberaceae Subfamilia : Zingiberoideae Marga : Kaempferia Jenis : Kaempferia galangaL. (Barus, 2009). Kencur (Kamferia galanga L) adalah salah satu jenis temu-temuan yang banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga dan industri obat maupun makanan serta minuman dan industri rokok kretek yang memiliki prospek pasar cukup baik. Kandungan etil pmetoksisinamat (EPMS) didalam rimpang kencur menjadi bagian yang penting didalam industri kosmetik karena bermanfaat sebagai bahan pemutih dan juga anti eging atau penuaan jaringan kulit (Rosita,2007).
Page 13 of 21
13 Rimpang kencur mengandung pati (4,14%); mineral (13,73) (Agoes, 2010). Selain itu rimpang kencur juga mengandung beberapa kandungan aktif seperti flavonoid, polifenol, saponin dan minyak atsiri. Karena flavonoid dan polifenol tidak tahan terhadap pemanasan menggunakan suhu yang tinggi maka hanya kandungan aktif berupa saponin dan minyak atsiri yang bisa diekstraksi menggunakan metode Soxhletasi (Koirewoa dkk, 2012; Kusumaningrum, 2008;Munawaroh dan Handayani, 2010; Rahayu dkk, 2009; Winarto, 2007). Di Indonesia kencur dikenal dengan berbagai macam nama, tergantung dari berbagai daerah tempat tanaman ini tumbuh. Karena kencur dapat tumbuh di berbagai daerah, maka namanya juga banyak. Di Sumatera dikenal dengan nama ceuku (Aceh), tekur (Gayo), kaciwer (Karo), cakue (Minangkabau), dan cokur (Lampung), sedangkan di Jawa dikenal dengan nama kencur (Jawa), cikur (Sunda), dan Kencor (Madura). Di Sulawesi tanaman ini dikenal dengan nama batako (Manado), watan (Minahasa), sukhur (Tonsea), humpoto (Gorontalo), cakuru (Makasar), dan ceku (Bugis), sedangkan di Sulawesi dikenal dengan nama batako (Manado), watan (Minahasa), sukhur (Tonsea), humpoto (Gorontalo), cakuru (Makasar), dan ceku (Bugis). Di Nusa tenggara dikenal dengan nama cekur (Sasak dan Sumba), sokus (Roti), dan sukung (Timor), sedangkan di Maluku dikenal dengan nama suha (Seram), assulli (Ambon), dan onegai (Buru). Di Irian dikenal dengan nama ukap (Barus 2009). 2.2. Ralstonia solanacearum Salah satu kendala dalam budi daya tanaman adalah penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum (sebelumnya bernama Pseudomonas solanacearum). Penyakit ini sudah ada di Indonesia sejak 100 tahun lalu menyerang berbagai tanaman, seperti tembakau di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1897 (Honing 1910 dalamSemangun 1988), kentang di Dataran Tinggi Karo pada 1912 (van Hall dalamSemangun 1991), kacang
Page 14 of 21
14 tanah pada tahun 1927 (Semangun 1991), dan pisang di Kepulauan Salayar, Sulawesi Selatan pada1921 (Gaumann 1921). Berbagai kegiatan penelitian telah dilakukan di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Salah satu hasil yang sangat menonjol yang dilakukan oleh peneliti Belanda, Dr. M.B. Schwarz, adalah diperolehnya varietas kacang tanah Schwarz-21 yang tahan terhadap layu bakteri pada tahun 1927. Ketahanan varietas tersebut sampai sekarang masih stabil sehingga digunakan sebagai tetua pada berbagai kegiatan pemuliaan kacang tanah (Machmud 1986). Sayangnya, sukses mendapatkan varietas tahan tersebut tidak diikuti pada komoditas lain, seperti kentang, jahe, dan pisang sehingga sampai saat ini, penyakit layu bakteri masih menjadi kendala yang mematikan. Kendala tersebut disebabkan oleh kompleksitas R. solanacearum, baik banyaknya ragam virulensi, tanaman inang, cara penyebaran, kemampuan bertahan hidup di dalam tanah dan air, maupun terbatasnya gen ketahanan pada tanaman. Akhir-akhir ini sudah banyak terobosan teknologi dalam pengendalian layu bakteri, misalnya fusi protoplasma dan mutasi untuk menghasilkan varietas tahan, mikroba antagonis dan pestisida nabati untuk menekan perkembangan patogen di dalam tanah, serta teknik untuk menginduksi ketahanan tanaman menggunakan mikroba dan senyawa kimia penginduksi. Tentu saja dalam penerapannya, semua teknologi yang tersedia harus dapat diintegrasikan ke dalam suatu paket pengendalian terpadu agar hasilnya optimal. 2.3. Bawang Merah Bawang merah mengandung senyawa–senyawa yang dipercaya berkhasiat sebagai antiinflamasi dan antioksidan seperti kuersetin yang bertindak sebagai agen untuk mencegah sel kanker. Kuersetin, selain memiliki aktivitas sebagai antioksidan, juga dapat beraksi sebagai antikanker pada regulasi siklus sel, berinteraksi dengan reseptor estrogen (ER) tipe II dan menghambat enzim tirosin kinase. Kandungan lain dari bawang merah diantaranya protein, mineral, sulfur, antosianin, kaemferol,
Page 15 of 21
15 karbohidrat, dan serat (LIPI, 2010). Dari hasil skrining fitokimia, didapatkan hasil bahwa ekstrak umbi bawang merah (Allium cepa L.) mengandung senyawa flavonoid selain senyawa alkaloid, polifenol, seskuiterpenoid, monoterpenoid, steroid dan triterpenoid serta kuinon (Soebagio, dkk., 2007).
Page 16 of 21
16
Page 17 of 21
17 III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan milik Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus dengan ketinggian 55 m (dpl). Pada bulan Juni sampai Oktober 2016 3.2. Bahan dan Alat Bahan – bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah, Bibit Kencur, Ekstrak Bawang Merah, aquades, pupuk kandang, pestisida nabati, sedangkan Alat yang digunakan adalah Pollybag, Cangkul, Gembor, Sabit, Sprayer, Kertas label, Alat tulis 3.3. Metode Penelitian Penelitian ini akan dilakukan pada polybag dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), menggunakan satu factor dengan tiga ulangan dan masing-masing perlakuan terdiri dari 5 polybag, dengan perincian sebagai berikut : E0 = tanpa ekstrak bawang merah E1 = dosis ekstrak bawang merah 35% E2 = dosis ekstrak bawang merah 40% E3 = dosis ekstrak bawang merah 45% E4 = dosis ekstrak bawang merah 50% Dari satu faktor diatas tersusun sebanyak 15 kombinasi perlakuan sebagai berikut: e2 1 e0 2 e1 1 e3 3 e4 2 e0 3 e2 2 e3 1 e4 1 e1 3 e1 2 e4 3 e0 1 e2 3 e3 2 Model matematikanya adalah: Yi= µ+ti+£i
Page 18 of 21
18 Keterangan: Yi = Nilai pengamatan padea perlakuan media tanam aras ke-i µ = Nilai tengah atau rerata ti = pengaruh komposisi media pada aras ke-i (i= 0,1,2,3,4) £i = Kesalahan percobaanpengaruh pemberian media pada aras ke-i. Apabila terjadi perbedaan nyata pada sidik ragam maka akan dilanjutkan dengan uji Duncan (DMRT) 5%. III.4. Pelaksanaan Penelitian a. Persiapan alat dan bahan serta media Kegiatan persiapan meliputi pemilihan bibit, menyiapkan media dan alat. Bibit yang digunakan harus bibit yang sehat dan tidak busuk. Hal ini agar dalam melaksanakan kegiatan tingkat kegagalan bisa ditekan. Media yang dipersiapkan adalah tanah yang ditaruh dalam pollybag yang sebelumnya telah dicampur dengan pupuk kandang untuk menetralkan pH pada media tanam. Ekstrak bawang merah merupakan hasil pemerasan dari bawang merah. Perasan bawang merah murni, dosisnya adalah 100%, untuk membuatnya menjadi 35%, 40%, 45%, 50% dengan cara mencampurnya dengan akuades sesuai dosis yang digunakan. b. Penanaman Setelah semua bahan dan alat disiapkan, langkah selanjutnya adalah menanam kencur dalam media. Sebelum penanaman, kencur terlebih dahulu di rendam dalam ekstrak bawang merah selama ± 1menit secara merata. c. Pemeliharaan Pemeliharaan yang dilakukan meliputi penyiraman, pengendalian hama tanaman, serta pemupukan. Penyiraman dilakukan setiap seminggu sekali. Hal ini dilakukan agar media tetap lembab dan tanaman tetap segar. Pengendalian hama tanaman dilakukan 5 mst dengan menggunakan pestisida nabati dari urine hewan ternak. Pemupukan menggunakan pupuk organic dari pupuk kandang.
Page 19 of 21
19 d. Pengamatan Pengamatan dilakukan setelah 10 mst, meliputi 1. Perkembangan tanaman 2. Penyakit yang ditimbulkan terhadap tanaman. 3.4. Parameter yang diamati Dari uraian diatas, maka parameter yang akan diamati adalah : 1. Berapa dosis yang efektif untuk menekan Penyakit Layu Bakteri Ralstonia (Pseudomonas) 2. Seberapa jauh pengaruh pemberian ekstrak bawang merah terhadap Penyakit Layu Bakteri Ralstonia (Pseudomonas)
Page 20 of 21
20
Page 21 of 21
21 DAFTAR PUSTAKA Afriastini.J.J. 1990. Bertanam Kencur. Wakarta Penebar Swadaya. Jakarta Rosita,2007, Manfaat ekstrak kencur sebagai bahan pemutih dan anti eging.Anymous. Naibaho,M. 2008. Sintesis N-Palmitoil Glisinida Melalui Amidasi Meril Palimita Dengan Glisin.Skripsi Fakultas MIPA USU.Medan KUSUMANINGATI, S. 1994. Kaempferia galanga L. dalam Ramuan Jamu. Makalah Seminar Nasional VI Tumbuhan Obat Indonesia, Jakarta. Soekotjo,S. Hardiwinoto, Sukirno, Adriana. 2004. Silvikultur. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Rindawana. 2010 . Keberadaan dan Efektifitas Bakteri Antagonis pada Rizosfer Kentang (Solanum tuberosum L) Sistem Aeroponik terhadap Ralstonia solanacearum Smith secara In-Vitro. Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI XX Komisariat Daerah Sulawesi Selatan. Nurbaya. 2011. Pengaruh Kombinasi Isolat Bakteri Antagonis terhadap Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia solanacearum) pada Budidaya Aeroponik Tanaman Kencur. Pascasarjana . Universitas Hasanudin 1 of 21 Displaying pak har hampir selesai.docx.
Links
http://id.wikipedia.org/wiki/Empon-empon
http://id.wikipedia.org/wiki/Empon-empon
http://id.wikipedia.org/wiki/Zingiberaceae
http://id.wikipedia.org/wiki/Rimpang
http://id.wikipedia.org/wiki/Rizoma
http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_atsiri
http://id.wikipedia.org/wiki/Alkaloid
http://id.wikipedia.org/wiki/Stimulan
http://id.wikipedia.org/wiki/Malaysia
http://id.wikipedia.org/wiki/Thailand
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris
http://id.wikipedia.org/wiki/Temu_putih
http://id.wikipedia.org/wiki/Pekarangan
http://id.wikipedia.org/wiki/Temu_rapet
No comments:
Post a Comment