Thursday, 17 December 2015

MAKALAH KONSERVASI TANAH DAN AIR TANAMAN PENUTUP TANAH





 keyword :
 Page 1 of 8 MAKALAH KONSERVASI TANAH DAN AIR TANAMAN PENUTUP TANAH Diajukan Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Konservasi Tanah dan Air Dosen Pengampu : Ir. Hadi Supriyo, M.Si Kelompok 3: Fathur Rohman ( 2010-41-016 ) Azizil Ana ( 2010-41-014 ) Satya Aji Atmaja ( 2010-41-015 ) Ahmad Rizal Mustafid ( 2011-41-020 ) Khoirus Shomi ( 2010-41-022 ) PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MURIA KUDUS 2012 Page 2 of 8 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang Tanah merupakan sumberdaya alam yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia, karena merupakan tempat atau media dimana manusia dapat memenuhi bermacam- macam kebutuhannya. Tanah merupakan tumpuan bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan fisik berupa pangan, sandang dan lainnya serta berbagai kebutuhan non-fisik. Akibat dari fungsinya yang sangat luas tersebut, maka tanah sering kali dieksploitasi secara berlebihan melebihi kemampuannya sehingga kualitasnya menurun, eksploitasi demikian menyebabkan tanah rusak sehingga kemampuanya dalam mendukung kehidupan manusia menjadi lemah. Kerusakan tanah didefinisikan sebagai proses atau fenomena penurunan kapasitas tanah dalam mendukung kehidupan ( Rapa- FAO, 1993 ). Arsyad ( 1989 ) menyatakan bahwa kerusakan tanah adalah hilanganya atau menurunnya fungsi tanah baik fungsinya sbagai sumber unsure hara tumbuahan maupun fungsinya sebagai matrik tempat akar tumbuhan berjangkar dan tempat air tersimpan. ( Oldeman 1993 ) mengatakan kerusakan tanah seabagai suatu proses atau fenomena penurunan kemampuan tanah dalam mendukung kehidupan pada saat ini atau pada saat yang aakn dating yang disebabkan oleh ulah manusia. Dari definisi tersebut terkandung pengertian tanah rusak adalah tanah yang telah menurun kemampuannya dalam mendukung kehidupan manusia. Penurunan kemampuan tanah dalam mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman merupakan dampak dari penurunan kemampuan tanah dalam mensuplai unsur hara dan air maupun sebagai media tumbuh yang menyediakan ruang bagi akar untuk bengjangkar Erosi ditengarai penyebab utama kerusakan tanah diperkebunan, utamanya pada areal yang kemiringnanya cukup tinggi, kerusakan tanah juga dapat terjadi karena menurunnya kadar bahan organic dan hilangnya atau berkurangnya unsur hara melalui panen dan pencucian Perbaikan tanah dapat dilakukan melalui perbaikan sifat –sifat kimia, fisik maupun biologinya agar tanah tersebut memiliki kemampuan lebih besar dalam mendukung produksi Page 3 of 8 tanaman. Agar ketiga sifat tanah tersebut dapat diperbaiki secara simultan maka pemberian bahan organic serta pupuk anorganik dipandang merupakan alternative terbaik. Permasalahannya adalah jumlah bahan organic yang perlu ditambahkan umumnya sangat besar dan tidak tersedia dalam jumlah dan mutu yang sesuai, selain itu jika bahan organic tersebut didatangkan dari tempat lain maka biaya ameliorasi tersebut menjadi sangat tinggi dan sering kali menjadi tidak layak untuk dilakukan, oleh karena itu upaya untuk menghasilkan bahan organic insitu yang berasal dari tanaman penutup tanah maupun tanaman penaung dipandang merupakan pilihan yang tepat. Tanaman penutup tanah yang biasa digunakan pada lahan perkebunan terdiri atas dua tipe yaitu legum dan non-legum. Tanaman penutup tanah dari golongan legum umum digunakan di areal tanaman baru atau tanaman ulang biasanya berupa kacangan yang menjalar. Menurut Risza (1994), tanaman penutup tanah memiliki beberapa fungsi antara lain mengurangi erosi permukaan tanah, merombak bahan organik dan cadangan unsur hara, menekan perkembangan gulma, menekan gangguan kumbang, dan menjaga kelembaban tanah serta memperbaiki aerasi. Selain itu terdapat keuntungan menggunakan tanaman legum karena bintil akar yang mengandung bakteri Rhizobium membantu dalam pengikatan nitrogen bebas dari udara. Jenis tanaman penutup tanah yang umum digunakan di perkebunan kelapa sawit adalah golongan kacang-kacangan seperti Pueraria javanica, Centrosema pubescens, Calopogonium muconoides, C. caeruleum, dan jenis lainnya (Syamsulbahri, 1996). 2. Fungsi tanaman penutup tanah adalah : a. Sebagai pelindung permukaan tanah dari daya rusak tetesan air hujan sehingga menekan erosi b. Sumber bahan organic tanah untuk memperbaiki sifat kimia, fisik maupun biologi tanah c. Tanaman penutup tanah juga berperan dalam menekan pertumbuhan gulma yang mengganggu tanaman pokok. d. Tanaman penutup berfungsi untuk menahan dan mengurangi daya rusak butir- butir hujan dan aliran permukaan e. sebagai sumber pupuk organik, dan untuk menghindari dilakukannya penyiangan yang intensif Page 4 of 8 3. Kriteria tanaman yang dapat digunakan sebagai tanaman penutup tanah Tanaman yang digunakan sebagai tanaman penutup memerlukan persyaratan berikut: a. mudah diperbanyak b. sistem perakaran tidak menimbulkan kompetisi dengan tanaman utama c. tumbuh cepat dan banyak menghasilkan daun d. tidak mensyaratkan tingkat kesuburan yang tinggi e. toleran terhadap pemangkasan, resisten terhadap hama,penyakit, kekeringan, naungan, dan injakan f. mampu menekan pertumbuhan gulma g. tidak akan berubah menjadi gulma h. tidak mempunyai sifat-sifat yangmengganggu seperti duri dan sulur-sulur yang membelit. Page 5 of 8 BAB II TEHNIK – TEHNIK KONSERVASI LAHAN USAHA TANI a. Pueraria Javanica termasuk jenis kacangan yang merambat dengan batang keras dan berbulu. Pertumbuhannya cepat sehingga pada 5-6 bulan setelah penanaman penutupannya dapat mencapai 90-100 % dan pada tahun pertama dapat mendominasi areal perkebunan. Selain itu kacangan ini tahan bersaing dengan gulma dan dapat menghasilkan banyak serasah, sedikit tahan terhadap naungan dan kekeringan (Prawirosurokarto et al., 2005). Mikroba yang fungsi utamanya sebagai penyedia unsur nitrogen melalui penambatan nitrogen atmosfer dapat dibedakan ke dalam dua kelompok yaitu mikroba yang hidup bebas (free-living microbes), artinya bekerja secara non-simbiotik atau tidak memiliki asosiasi spesifik dengan tanaman tertentu, dan mikroba yang melakukan hubungan simbiotik dengan tanaman tertentu (Yuwono, 2006). Salah satu contoh yang saat ini sudah banyak diteliti adalah hubungan simbiotik Rhizobium dengan tanaman legum. Rhizobium merupakan bakteri gram negatif, bersifat aerob, tidak membentuk spora, berbentuk batang dengan ukuran sekitar 0,5-0,9 µm. Bakteri ini termasuk famili Rhizobiaceae. Bakteri ini banyak terdapat di daerah perakaran (rizosfer) tanaman legum dan membentuk hubungan simbiotik dengan inang khusus (Yuwono, 2006). Rhizobium merupakan simbion fakultatif, dapat hidup sebagai komponen normal dari mikroflora tanah dalam keadaan tidak ada tanaman inang, tetapi tetap hidup bebas sebagai heterotrof tergantung kehadiran akar tanaman inang. Populasi Rhizobium pada rhizosfer tanaman legum biasa mencapai 106 sel/gram atau lebih (Richards, 1987). Di tanah, bakteri ini hidup bebas dan motil, memperoleh nutrisi dari sisa organisme yang telah mati. Rhizobium yang hidup bebas tidak dapat memfiksasi nitrogen dan punya bentuk yang berbeda dari bakteri lain yang ditemukan pada bintil akar tanaman (Burdas, 2002). Menurut Suprapto (1999), ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan Rhizobium, antara lain: pH tanah, suhu, sinar matahari, dan unsur hara tanah. Menurut Martani & Margino (2005), kebanyakan Rhizobium tumbuh optimum pada pH netral. Reaksi optimum bagi pertumbuhan dan perkembangan Rhizobium pada pH 5,5-7,0 dengan batas kecepatan reaksi pada pH 3,2-5,0 pada keadaan asam, dan 9,0-10,0 pada Page 6 of 8 keadaan alkali. Meskipun begitu ada beberapa strain Rhizobium yang toleran masam. Pada strain ini pertumbuhannya terlihat lebih luas dan mempunyai lendir yang lebih banyak (Elfiati et al., 2006). Suhu tanah juga sangat mempengaruhi pertumbuhan bakteri ini. Zahran (1999), menyatakan bahwa sebagian besar Rhizobium memiliki temperatur optimum antara 28-31oC dan umumnya tidak dapat tumbuh pada 37oC. Temperatur pembatas bagi pertumbuhan bakteri adalah 0-50oC dan temperatur titik kematian pada 60oC-62oC (Sutedjo et al., 1991). Rhizobium yang efektif pada bintil akar mampu memenuhi seluruh atau sebagian kebutuhan N bagi tanaman. Berdasarkan kemampuan tersebut Rhizobium memiliki andil yang cukup besar dalam peningkatan produktivitas pertanian terutama kacang-kacangan (Arimurti et al., 2000). Dalam jaringan bintil akar bakteri tersebut memfiksasi nitrogen dan mengubahnya menjadi ammonium yang selanjutnya dimanfaatkan oleh tanaman. Hal ini menyebabkan kondisi pertumbuhan tanaman berbintil akar lebih baik dibandingkan tanpa bintil akar (Martani & Margino, 2005). b. Strip Rumput Alami Merupakan teknik konservasi dengan cara membiarkan sebagian tanah pada barisan/strip sejajar kontur (di antara tanaman perkebunan) ditumbuhi rumput secara alami selebar 20-30 cm.  Manfaat strip rumput alami Strip rumput bermanfaat untuk konservasi tanah dengan cara mengurangi kuatnya aliran permukaan. Selain itu strip rumput juga dapat berfungsi sebagai sumber pakan ternak. Dengan berjalannya waktu (3-4 tahun setelah aplikasi), strip rumput alami dapat membentuk teras kredit. c. Rorak Rorak adalah lubang yang dibuat di bidang olah atau saluran peresapan sebagai tempat penampungan air aliran permukaan dan sedimen. Ukuran rorak yang umum digunakan pada lahan usaha tani tanaman perkebunan adalah panjang 50-100 cm, lebar 50 cm, dan dalam 30-50 cm. Hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan rorak adalah: air hanya boleh tergenang beberapa saat. Apabila penggenangan berlanjut Page 7 of 8 dikhawatirkan akan menimbulkan masalah berupa penyakit yang dapat menyerang tanaman.  Manfaat rorak Selain berfungsi untuk menampung sedimen (sediment trap) dan menyalurkan air, rorak juga dapat menampung serasah, sehingga rorak dapat berfungsi sebagai fasilitas untuk aplikasi mulsa vertikal (Gambar 4). Rorak juga dapat merangsang pertumbuhan akar baru, yang berdampak pada peningkatan produksi tanaman kopi. d. Sistem Multistrata Merupakan konservasi tanah dengan cara penanaman tanaman buah-buahan, kayu-kayuan, dan/atau tanaman legum multiguna (multipurpose leguminous) di antara tanaman perkebunan (tanaman utama), sehingga tercipta komunitas tanaman dengan berbagai strata tajuk. Dengan kondisi yang demikian, hanya sebagian kecil saja air hujan yang langsung menerpa permukaan tanah.  Manfaat sistem multistara Selain menguntungkan dari segi konservasi tanah, penerapan sistem multistrata dapat memberikan keuntungan lain, yakni:  tersedianya naungan untuk tanaman utama sehingga dapat menekan pertumbuhan gulma;  pangkasan dari tanaman legum pohonan dapat berfungsi sebagai sumber mulsa dan pupuk hijau  tanaman lainnya yang ditanam dalam sistem multistrata dapat menjadi sumber pendapatan tambahan. Page 8 of 8 BAB III KESIMPULAN Setelah kita membaca dan mencrmati kami dapat menyimpulkan bahwa : a. Tanaman penutup tanah dapat Sebagai pelindung permukaan tanah dari daya rusak tetesan air hujan sehingga menekan erosi b. Tanaman penutup tanah dapat sebagai Sumber bahan organic tanah untuk memperbaiki sifat kimia, fisik maupun biologi tanah c. Tanaman penutup dapat sebagai sumber pupuk organik, dan untuk menghindari dilakukannya penyiangan yang intensif 1 of 8 Displaying pak hadi 1.docx. Links

No comments:

Post a Comment